[LN] Mika No Kitai - Part II

Yooo Yooo semuanya...

Bagaimana kabarnya nih?
Baik - baik aja kan?
Maaf ya udah beberapa lama ini rrythien jarang update blognya. Ya maaf banget, lagi ngerjain beberapa cerita untuk jangka panjang takutnya jadi hiatus nanti. Tapi, sejak beberapa minggu ini karena sudah terselesaikan ceritanya, sekarang jadi ada waktu deh buat ngeblog lagi.

Ngeblog kali nih dimulai lagi dari lanjutan salah satu cerita dari wattpad rrythien

*Oh ya jangan lupa visit ke wattpad rrythien ya*

Wattpad : RRYTHIEN

Cerita yang dilanjut kali nih adalah Mika no Kitai .

Yang dimana akan dilanjutkan part 2 nya, dan part ke-3 nya akan nyusul beberapa hari setelah postingan ini.




Kisah seorang anak kecil bernama Mika yang bercita - cita menjadi seorang prajurit bayaran di kota Tryent .
Tapi , ada suatu kejadian buruk mendatangi mika , yang membuat dirinya bimbang .
Apakah dia tetap bercita - cita menjadi seorang prajurit bayaran atau malah sangat membenci yang namanya prajurit bayaran ?
Keputusan yang harus dia ambil diusianya yang masih tergolong muda , jalan manakah  yang akan dia plih ?


Genre : Adventure , Fantasy , Action , Drama , Longstory .


Bagi yang belum membaca bisa lihat list dibawah :

List - [LN} Mika no Kitai




 Part II


Hari nih tidak ada aktifitas yang cukup berat untuk kukerjakan. Hanya merawat lahan perkebunan dibelakang rumah kami. Lahan perkebunan yang tidak terlalu luas hanya 5 x 10 yukat ( 1 yukat = 2 meter ), walaupun tidak begitu luas setidaknya kami masih bisa memenuhi kebutuhan sehari – hari dari hasil menjual tanaman yang kami tanam disana ( walaupun pas-pasan hehe ). Setelah kemarin kami mendapatkan hasil panen yang banyak tentu lahan kami menjadi kosong, untung saja kakak semalam membeli beberapa bibit baru untuk bisa ditanam hari nih.
Kak Mari juga berkata bahwa hasil penjualan panen kami mendapatkan 1 keping emas dan 87 keping perak. Sangat banyak dari biasanya, mungkin aku bisa meminta beberapa keping perak lagi ketika kami pergi ke kota. Selain itu kak mari juga tadi pagi memberiku satu buah aneh berbentuk seperti cerry tapi memiliki warna yang banyak dalam buahnya, seperti pelangi. Rasanya manis dan sedikit asam tapi sangat menyegarkan saat dimakan.
Kata kak mari ia mendapatkannya hanya 3 keping perak saja dan cuman ada satu disana. Penjual buahnya berkata, ia tidak tahu secara pasti itu buah apa dan berasal darimana. Si penjual mendapatkannya dari seorang lelaki yang menjualnya dengan harga 1 keping perak. Pertama si penjual juga merasa heran buah apa yang dijual lelaki tersebut, tapi karena bentuknya yang aneh dia menerima saja mungkin dia bisa mendapat untung lebih besar.
Setelah beberapa hari ia menjualnya, ternyata tidak ada satu orang pun yang membelinya. Mungkin karena bentuknya yang aneh seperti itu membuat orang enggan untuk membelinya. Banyak yang berpendapat bahwasannya ada racun yagn didalam buah tersebut. Tapi entah alasan apa kak mari sampai membeli buah tersebut. Apa karena warnanya yang seperti pelangi itu membuat dirinya tertarik untuk membelinya. Rumor banyak juga mengatakan bahwa buah itu mengandung racun kata sang penjual kepada kak Mari. Tapi, sampai sekarang setelah aku memakannya tidak ada efek samping yang terasa didalam tubuhku. Malah diriku terasa semakin bersemangat untuk menyelesaikan perkerjaanku hari nih.
**
Setelah menyiapkan semua peralatan untuk menanam kembali bibit baru di lahan belakang, aku langsung bergegas ke halaman belakang untuk berkerja. Ada 5 bibit yang akan ditanam hari nih. Kubis, wortel, tomat, mentimun dan cabai. Mayoritas kubis dan mentimun yang lebih banyak, karena harganya yang lumayan mahal di pasar.
Selagi aku sibuk dengan perkerjaan di halaman belakang, kak mari sibuk juga mempersiapkan makanan untuk kami berempat. Berempat ? Ya, dua orang lagi adalah orangtua kami. Mereka tidak pernah nampak selalu ada dirumah, karena mereka tinggal dipasar untuk berdagang. Hanya seminggu sekali mereka kembali kesini cuman untuk memastikan saja bahwa kami baik – baik saja. Dan hari nih atau lebih tepatnya malam nanti, mereka berdua akan pulang untuk melihat kami, dan esok paginya kembali lagi ke pasar untuk berdagang.
Kak mari bilang ia akan memasak soup kesukaanku. Soup dengan campuran daging Tyusi. Hmmm . . . . Pasti sangat sedap rasanya, setelah berkerja dan langsung menikmati hidangan soup dengan daging Tyusi yang nikmat. Yuummy . . . aku sudah tidak sabar menanti malam hari.
**
Tanpa terasa langit sudah mulai gelap tanda bahwa aku harus menghentikan pekerjaanku. Walaupun begitu sebenarnya pekerjaanku hari nih sudah kusiapkan semuanya sejak tengah hari tadi, sisa waktunya kubuat untuk melatih diriku. Walaupun umurku baru 13 tahun , tapi aku sudah mempersiapkan fisikku untuk menjadi seorang Prajurit Bayaran saat umur 16 tahun. Setiap hari setelah pekerjaanku di kebun selesai , aku pergi ke dalam hutan Oplov. DIsana aku berlari sekitar 1 – 2 poyukat ( 1 poyukat = 680 meter ) untuk melatih stamina. Ditambah juga dengan latihan meninju menggunakan pohon. Pohon ? Ya, aku mencari pohon yang kelihatan sedikit tua lalu mulai melatih tinjuku dengan meninju – ninju bagian tengah badan pohon tersebut. Walaupun awalnya berat dan menyakitkan tangan, tapi setidaknya tanganku sedikit lebih keras dibandingkan dulu.
Aktifitas ini sudah kulakukan sejak beberapa bulan yang lalu tanpa sepengetahuan orangtuaku. Sampai sekarang pun mereka tidak mengetahui, hanya kak mari saja yang tahu. Itu pun karena ketidaksengajaannya mengintip. Salahku juga yang keasyikkan latihan sampai lupa hari sudah larut dan tidak pulang ke rumah, sehingga kak mari mencariku ke dalam hutan dan menemukanku sedang berlatih tinju dengan pohon disana.
Kak Mari memang sudah mengetahuinya, tapi aku sudah membuat kesepakatan dengannya, bahwa ia merahasiakan masalah itu pada ayah dan ibu. Sebagai imbalannya aku harus lebih giat lagi dalam mengurus dan merawat kebun kami. Setimpal memang, kurasa pun ada manfaatnya juga dengan aktifitas berkebun ini untuk membentuk tubuhku.
Setelah siap semuanya, aku masuk kedalam rumah dengan baju yang masih kotor karena habis berkebun dan latihan tadi.
" Hei Mika, sudah siap semuanya ? " sapa kak mari yang sedang menyiapkan makanan diatas meja.
" Haa udah kok kak. Kak aku mandi dulu ya. " jawabku yang langsung masuk ke dalam kamar mandi.
" Yaa, cepat ya mungkin sebenar lagi ayah ibu datang. "
" Hmmm . . . " jawabku dari kamar mandi.
**
Selesai mandi dan bersih – bersih, tanpa menggunakan baju aku keluar dari kamar mandi.
" Loh belum datang kak ? "
" Haaa, , , belum. Kamu pakai baju dulu sana. " jawabnya sedikit terkejut yang melamun.
" Beneran datang gak sih kak ? "
" Semalam kakak jumpa dengan mereka ketika di pasar. Katanya mereka akan datang, tapi sampai sekarang belum ada datang. "
" Firasatku gak en . . . "
"Tadaaaaaaaa . . . "
Ketika aku baru berbicara, tiba – tiba orangtua kami membuka pintu rumah. Ya mereka beneran datang. Mengetahui hal itu kak mari langsung berlari ke arah mereka dan memeluknya.
" Yeeeeee ayah ibu pulang . . . " kak mari telihat sangat senang ketika memeluk mereka. Sangat haru bahkan kak mari sampai mengeluarkan air mata. Mungkin rindu lama tak jumpa membuat ia nangis. Hampir setiap minggu ketika mereka datang sifat kak mari tidak berubah. Walaupun umurnya sudah 19 tahun, tapi ketika didepan mereka ia selalu bersifat seperti anak berumur 8 tahun saja yang baru diberikan hadiah oleh orangtuanya.
" Yooo, mika. Gimana kebun kita ? " sapa ayahku yang langsung memelukku dengan erat.
" Sangat bagus, yah. Apalagi kemarin kami mendapat 1 keping emas dan 87 keping perak. " jelasku. Tetapi ayah tidak menghiraukan. Ia hanya sibuk memeluk tubuhku dengan eratnya.
" Tubuhmu semakin besar ya. Kau melatih tubuhmu ? " tanya ayah membuatku sedikit terkejut. Aku sedikit bingung harus menjawab bagaimana.
" Ha iya iya. ( semoga dia tidak curiga ) " jawbaku dengan sedikit terbata – bata.
" Hahaha bagus itu. Seorang pria memang harus memiliki tubuh yang bagus, agar ada wanita yang menyukaimu nanti. Seperti ibumu dulu, dia suka kepadaku karena tubuhku yang bagus. Dia sampai terkagum – kagum dan cinta mati kepadaku. " canda ayahku sambil bergoyang – goyang menunjukkan badannya yang sangat besar, terutama diperutnya. Sangat buncit, bahkan ibu – ibu yang sedang hamil bisa tersaingi olehnya. Tingkah tersebut membuat kami semua tertawa dengan kerasnya. Inilah salah satu sifat ayah yang kami rindukan jika ia tidak ada. Sifat humorisnya yang sangat lengkat dan selalu berhasil membuat kami tertawa lepas.
" Udah dulu yah bercandanya, ayo kita makan. Aku sudah menyiapkan soup dengan daging Tyusi . " jelas kak mari menarik tangan ayah dan ibu menuju meja makan.
" Daging Tyusi ?? Wah sedap sekali, ayoo makan. " seru ayahku. Seperti ketertarikannya dengan makanan tidak berkurang, walau perut sudah sebesar itu.
Malam ini kami menghabis waktu berempat dengan berbicara. Canda tawa kadang mewarnai meja makan kami. Ayah selalu mengeluarkan lelucon – leluconnya yang membuat kami semua tidak bisa berhenti tertawa. Banyak cerita juga tersampai dimeja itu. Kakak sudah mengatakan bahwa kami sudah mulai baik dalam berkebun dan sudah lebih banyak dalam menghasilkan uang.
Ibu menceritakan bahwa kakak sudah bisa untuk mencari pasangan agar tidak merepotkannya mengerjakan pekerjaannya sendirian. Ayah setuju dengan pendapat Ibu dan mulai mengoda kak mari dengan menjodoh – jodohkannya dengan prajurit penjaga bernama Tooru. Seperti mereka sudah salah satu rahasia kami. Kakak yang mendengar perkataan mereka menjadi salah tingkah. Pipinya sangat merah merona seperti tomat di kebun kami. Sikapnya sedikti – sedikit menunduk malu ketika ayah kembali mengodanya.
Tak lama kemudian suasana meja makan sedikit berubah menjadi serius ketika Ayah mengatakan, bahwasannya aku tidak diperbolehkan menjadi seorang prajurit bayaran karena resiko kerjanya yang sangat bahaya.
" . . Mati ! ! "
Ancaman mati selalu menghantui seorang prajurit bayaran, karena hal itu ayah tidak mengizinkanku mendaftar menjadi seorang prajurit bayaran. Dia tidak ingin aku mati ketika menjalankan misi, terlebih lagi mayatku tidak bisa ditemukan atau dimusnahkan oleh musuhku. Ayah sangat takut. Dari kata – katanya sangat nampak ia ingin agar aku tetap menjadi sseorang petani saja. Lebih baik, resiko untuk mati sedikit, paling meninggal karena usia yang sudah tua saja. Ayah selalu menekan kata – kata itu disetiap pembicaraannya ketika menyebut tentang diriku.
Kakak yang melihat itu menyadari akan diriku yang mulai tidak enak mendengarkan kata – kata dari tersebut dari ayah. Dia terus melirik ke arahku bila ayah sudah mulai berbicara mengenai prajurit bayaran. Sementara ibu juga hanya diam seperti kakak dan tidak mau ikut berbicara mengenai itu. Ia setuju – setuju dengan apa yang aku ingin lakukan, dia sama sekali tidak melarangku. Ibu malah mendukung, berbanding terbalik dengan ayah .
Akhirnya cerita makan malam kali ini penuh dengan cerita tentang diriku yang tidak diizinikan menjadi seorang prajurit bayaran. Cerita mengenai kak mari yang harus berpasangan pun sedikit terlupakan. Ayah terus memberikan pendapatnya kenapa aku tidak boleh masuk ke sana. Sedangkan aku, ibu dan kak mari hanya diam saja tidak mau membantah apa yang dikatakan Ayah.
Sampai akhirnya ayah berhenti berbicara dan menyuruh kami untuk tidur agar bisa beraktifitas besok hari dengan badan yang fit.
Cerita di meja makan pun selesai dan kami masuk kekamar masing – masing untuk tidur . . .
Sinar mentari pagi sudah menyambut kami pagi ini. Ayah dan Ibu juga bersiap dengan kereta gerobaknya. Pagi ini mereka kembali lagi ke pasar dalam waktu 2 - 3 minggu. Cukup lama karena mereka menunggu festival yang ada tiap tahunnya untuk merayakan hari jadi kota Tryent. Semua orang berkumpul disana dan banyak orang yang ingin berbelanja juga disana.
Mereka juga mengatakan bahwa kami berdua harus datang kesana. Setidaknya ikut merayakan saja dan bisa bermalam 1 – 2 malam dirumah mereka yang ada di kota. Kami pun mengiyakan keinginan mereka berdua untuk datang kesana.
Setelah mengucapkan salam perpisahan dan ayah memberikan sebuah kalung bertuliskan huruf "M" untuk mika dan mari. Katanya dengan kalung ini membuatku akan selalu ingat dengan kak mari dan tidak melupakan satu – satunya saudaraku. Lalu mereka pergi menggunakan kereta gerobak mereka. Saling melambaikan tangan antara aku dan kak Mari dengan ibu sedangkan ayah fokus membawa kereta gerobaknya.
" Dek jangan lupa untuk merawat kebun ya. " seru kakak yang langsung meninggalkanku sendiri didepan rumah. Raut muka kak mari terlihat sangat sedih, mungkin ada perkataan yang tidak kudengar tadi malam. Firasatku tiba – tiba merasa ada yang tidak beres. Tapi daripada itu aku harus mengerjakan pekerjaanku terlebih dahulu. Aku tidak ingin gara – gara hal tersebut, pekerjaanku dikebun jadi terganggu.
****
Done untuk part ke - 2 nya.

Part ke-3 akan menyusul beberapa hari sejak postingan ini .
Jika kamu ingin membaca cerita ini duluan sebelum di blog, kamu bisa membaca cerita ini di wattpad saya.

Mika no Kitai


Terima kasih sudah berkunjung dan membaca, jaa nee :D

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Absurd] JAV Sub Indo?? Beneran Ada!!

Cosplay Boku No Pico Yang Buat Kita Terpukau ! ! !

[ Review ] Pembahasan Chapter 4 - BIFURCATION - HEARTXBREAK

15 Hal Kenapa Cowok Otaku Keren

[Survei] Reaksi Orang Dengan Status “Boku No Pico”

ASUS X550IK, Laptop Premium Dengan Harga Terjangkau!